Memurnikan Keesaan Tuhan

Allahu AkbarMEMURNIKAN KEESAAN ALLAH

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
1.Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa
2.Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3.Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan
4.dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

Surat Al-Ikhlash berbicara tentang keesaan tuhan. Ada berbagai cara mengenal Allah SWT antara lain melalui ayat ayat Qur’an. Surat ini juga merupakan wahyu Allah SWT kepada kaum muslimin untuk dapat mengenal Allah SWT lebih jauh. Keesaan Tuhan atau tauhid merupakan pondasi utama dalam agama Islam yang merupakan misi utama kenabian dari nabi Adam sampai Muhammad SAW. Sebegitu pentingnya surat ini sebagai pondasi agama dalam hadis Bukhari diriwayatkan bahwa surat ini setara dengan sepertiga Al-Qur’an. Dalam 13 tahun pertama periode kerasulan atau periode Mekkah misi utama dari kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah untuk membenarkan pandangan masyarakat tentang ketuhanan dan manusia. Surat ini turun untuk mengkoreksi pandangan kaum musyrikin tentang Allah SWT. Saat itu manusia berpandangan bahwa Tuhan itu lebih dari satu dan juga direpresentasikan dalam berbagai macam wujud fisik.

Tujuan utama surat ini untuk menjelaskan siapa dan bagaimana Tuhan yang sebenarnya agar manusia dapat lebih mengenali tuhan dan beriman kepadanya dengan benar. Makna dari Ikhlash sendiri ialah menyingkirkan segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan sifat tuhan. Seperti halnya orang menganjurkan kepada kita agar selalu ikhlash dalam segala amalan hal ini mengandung pengertian kepada kita untuk menyingkirkan segala niat yang bukan karena Allah SWT. Ikhlash juga merupakan substansi dari ibadah. Tidaklah sah suatu ibadah kalau tidak dilakukan dengan niat yang ikhlash.

1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa

Dalam ayat ini kata “Esa” direpresentasikan dengan penggunaan kata “Ahad” yang berarti satu. Dalam bahasa arab dikenal juga kata “wahid” yang berarti satu juga akan tetapi makna satu kata “Ahad” jauh lebih murni dan kuat dibandingkan dengan kata “wahid”. Penggunaan kata “Huwa” atau Dia mengacu kepada Allah SWT. Kata “Huwa” juga diartikan sesuatu yang hadir dalam hati. Allah SWT akan selalu dirasakan kehadirannya dalam hati manusia yang mempunyai keimanan yang baik. Hal tersebut membuat orang tersebut malu atau sungkan untuk melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT karena Dia selalu menyaksikan apa yang kita perbuat.

Beberapa pandangan tentang keesaan Allah SWT dapat dibagi menjadi beberapa sisi pandang berikut:

  • Esa dalam dzat Allah SWT esa dalam dzatnya. Jangan pernah membayangkan atau melukiskan dzat Allah SWT sebab kita tidak akan mampu melakukannya. Bayangkan sebuah mobil yang memerlukan unsur unsur untuk dapat berfungsi semestinya. Ia memerlukan mesin, roda, pintu, dsb. Jika salah satu dari unsur tersebut tidak ada tentu mobil tersebut tidak berfungsi dengan sempurna. Allah SWT maha sempurna sehingga tidak memerlukan unsur unsur.
  • Esa dalam sifat
    Keesaan sifat Allah berarti tidak ada suatu makhluk pun di jagat raya yang menyamai karakteristik sifat Allah. Sifat Allah SWT adalah sangat unik dan tiada duanya. Sebagai contoh manusia mempunyai pengetahuan dan Allah SWT pun mempunyai pengetahuan. Tetapi apakah pengetahuan manusia sama dengan pengetahuan Allah SWT. Tentu saja tidak, pengetahuan Allah SWT sangat jauh lebih luas dibandingkan manusia. Allah SWT adalah sang pencipta yang mengetahui segala detil tentang makhluknya. Dia mengetahui apa saja yang terlintas di dalam benak setiap manusia di muka bumi ini dari detik detik dan dari setiap hembusan nafas manusia.
  • Esa dalam perbuatan
    Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini terjadi dengan izin dan kehendak Allah SWT. Allah SWT telah menetapkan takdir setiap makhluknya jauh sebelum alam semesta ini ada.

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu

Kata “Shomad” berarti tempat menggantungkan segala harapan. Telah dijelaskan pada ayat pertama bahwa setiap kejadian di alam semesta ini terjadi dengan izin Allah SWT. Sudah sepatutnya kita menggantungkan segala harapan kepada Allah SWT. Kita sebagai manusia diharus kan untuk berusaha sebaik mungkin akan tetapi hasil akhirnya hanya Allah SWT yang tahu dan menentukan. Usaha dan doa adalah jalan terbaik untuk menggapai sesuatu yang kita inginkan walaupun begitu kita harus dapat menerima segala yang ditentukan Allah SWT meskipun hasil akhirnya tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

Ayat ini juga menegaskan bahwa Allah SWT adalah penguasa tunggal dan hanya Dialah penentu segala sesuatu di alam semesta ini. Dia tidak memerlukan campur tangan pihak lain dalam menentukan ketetapan yang harus terjadi.

3. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan

Jika orang tua mempunyai seorang anak maka ada pengharapan dari orang tua tersebut bahwa anak tersebut suatu hari akan merawatnya ketika ia sudah mencapai hari tua. Hal ini menandakan adanya kebutuhan orang tua kepada anak. Begitu juga dari sisi pandang anak. Anak membutuhkan orang tua untuk mengasuh dan merawat dirinya sehingga ia bisa mandiri.

Dalam ayat ini Allah SWT menggambarkan bahwa dirinya tidak membutuhkan anak atau orang tua. Kebutuhan akan anak dan orang tua merupakan suatu tanda kelemahan dan hal ini bukan merupakan sifat Allah SWT. Dia adalah kekal dan abadi. Dia sudah ada sebelum alam semesta ini ada dan Dia akan terus ada ketika alam semesta ini sudah punah.

4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

Dalam suatu riwayat dikisahkan seorang sahabat bertanya kepada Abu Bakar. Hai Abu Bakar bagaimanakah engkau mengenal Tuhan mu. Abu Bakar menjawab aku mengenaliNya melalui Tuhanku. Yang bertanya tidak puas dengan jawaban tersebut maka ia mengajukan lagi pertanyaan yang sama. Kemudian Abu Bakar menjawab ketidak mampuan mengenal Tuhanku itu lah pengenalan Allah. Jawaban tersebut merefleksikan bahwa kita tidak akan pernah mampu membayangkan tentang wujud dan sifat Allah SWT yang sebenarnya. Kemampuan kita mengenali Allah SWT dari petunjuk yang diberikan hanyalah sekelumit saja dan tidak merupakan tanda pengenalan seutuhnya.

Dalam ayat Qur’an tidak pernah diberikan penjelasan wujud fisik Allah SWT kita hanya diberikan petunjuk melalui sifat sifat Nya. Sesuatu yang mempunyai wujud pasti mempunyai volume dan mempunyai batas. Allah SWT tidak mempunyai batas. Allah SWT hadir dimana saja dan kapan saja. Allah SWT bahkan bisa mengetahui segala pikiran yang melintas di benak setiap manusia dan makhluk makhluknya dalam setiap bilangan waktu terkecil yang bisa ditemukan manusia.

Janganlah pernah membayangkan wujud Allah SWT tetapi rasakan saja kehadiranNya dalam hati kita karena setiap manusia diberikan potensi atau fitrah untuk merasakan kehadiran Allah SWT.

3 thoughts on “Memurnikan Keesaan Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s